Rabu, 18 Juni 2014

BelajarSabar

jika seorang sahabat
pernah membuat hatimu terluka
sadarilah..
bahwa dia hanya manusia biasa
yang tak sempurna

jika sahabat pernah membuatmu marah
sadarilah...
dan maafkan sebelum dia minta maaf
bahwa setiap manusia tak luput dari salah....

#belajar_sabar
Suka

Persahabatan

proses sebuah persahabatan
membutuhkan pemeliharaan
motivasi yang saling mengisi
bukan hanya pujian dan perhatian basa_basi

semoga masih bisa di perbaiki
jika seandainya pada hari ini ada seorang sahabat berniat pergi..
dari sebuah persahabatan yang sepertinya tidak ada kenyamanan di hati lagi....

KAPANG TAKSUNTAK ING GURIT

lumantar aruming ganda wangi
kang ginawa semilir angin
rinasa ngelus ati kang nandhang sepi


ana landhep kapang
nedya lelangen ing kedheping nettra
umpama sliramu ngerti
coba rungokna kumlesiking dhdha iki
pindha gemuruhe alun samudra

sauruting wengi tansaya ndadi
prasasat nunjem pulung ati

dhuh..yagene kudu taktemahi lelakon iki
wawayanganmu kang winungkus sepi
nasak jumejere kembang kaktus
anjalari gorehing ati

sesingidan ing walik impen-impen bisu
wengi rinengga deresing luh
nelesi ati kang garing

ing antarane tumiyubing angin
kekes njiret pangrasa

taktitipake getering kapang
marang kembang arumdalu
kareben nggawa crita saka atiku

ana kapang tetembangan jiwa
nemnbangake dhuhkitaning nala

ing wengi kang sepi
taksuntak sakehing rasa
ana larikaning gurit iki
senajan kala-kala kudu takbusek esem ngujiwatmu
kang anjalari atiku kelara-lara

ing penggiring impen wengi
ngupaya cahyaning rembulan
miyaki sakehing pepalang

naging apa ya bisa
aku mlumpati jurang kang dadi pepalang?

ahh.....bali takusapi iline
luh kang demleweren ing pipi

tansaya..adoh wewayangnmu
ninggalke aku

....Coretanku....


IBU

wilanganing pangucap
rinoncen dunga
maujud rasa kang kebak rasa asih

solahbawa tan ginawe
prasaja satemah gawe rena
tumprap garwa lan para putra

menika kang aran ibu
jiwa cumadhong mring panandhang lan narima

teteg teguhing rasa
anjalari para putra temtrem
sabda kawedar winungkus dunga pamuji

ibu...wonten asta panjenengan
para putra teteg lan tangguh
ngadepi kahanan dunya

panjenengan wanita mulya
widodarine garwa lan putra.

#hiks
 

Belajar Kehidupan

sambil di jalan...
merenungi diri...

tiap hari adalah belajar dan belajar...bahwa tidak smw keinginan hati bisa tercapai

agar kita tahu bahwa hidup itu perlu perjuangan dan bisa menghargai setiap peluh yg megalir
bukan sibuk menyesali dng airmata...

....coretanku.....

sumilir angin nyangking warta
kadya tumetesaing embun wanci esuk
nyingget playune angem-angen
dadi adhem nyes
sinempyok tirta biru
nggrenggani jroning dhdhaku...

"Terma CINTA yang di singgung dalam Al Qur'an"

1. Cinta Mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “menyayangi”. Orang yang memiliki cinta jenis Mawaddah, mahunya selalu berduaan, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak biasa berfikiran lain.

2. Cinta Rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis Rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya disbanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meskipun untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya.

3. Cinta Mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga tidak menpedulikan hal-hal lain, cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis Mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.

4. Cinta Syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, kerinduan dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) biasanya seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tidak menyedari apa yang dilakukan. Al- Qur’an menggunakan terma Syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, isteri pembesar Mesir kepada Nabi Yusuf.

5. Cinta Ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tegas membangunkannya untuk solat, membelanya meskipun salah. Al- Qur’an menyebut terma ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta Ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah,

6. Cinta Shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al- Qur’an menyebut terma ni ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaikha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33).
Yusuf (merayu kehadrat Allah Taala dengan) berkata: “Wahai Tuhanku! Aku lebih suka kepada penjara dari apa yang perempuan-perempuan itu ajak aku kepadanya. Dan jika Engkau tidak menjauhkan daripadaku tipu daya mereka, mungkin aku akan cenderung kepada mereka, dan aku menjadi dari orang-orang yang tidak mengamalkan ilmunya”.

7. Cinta Syauq (rindu). Terma ini bukan dari Al -Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan Al_Qur’an. Dalam surah Al `Ankabut ayat 5 dikatakan : “bahawa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba”. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa iltihab naruha fi qalb al muhibbi.

8. Cinta Kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positif meskipun sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut A-l Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286).
Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Ia mendapat pahala kebaikan yang diusahakannya,
— bersama Lestari Sahsa Malika